Sabtu, 02 Juli 2011

Dalang Sekang Banyumas

KI SOEGINO SISWOTJARITO ( 1937 - ) *)
Dalang Gino lahir hari Selasa Wage,9 Jumadilakir 1356 H bertepatan
dengan tanggal 17 Agustus 1937 di Banyumas. Ia bukan keturunan
dalang. Ayahnya, Siswomiharjo, seorang kepala sekolah. Ibunya
bernama Dasirah. Kehidupan orang tuanya yang juga pernah menjadi
kepala desa, boleh dibilang cukup. Namun Gino tidak tertarik ketika
ditawari untuk menggantikan kedudukan sang ayah sebagai kepala desa.

Ia memilih menjadi dalang. Bagi masyarakat Banyumas, nama dalang
Gino sudah tidak asing lagi. Ia begitu populer. Setiap pentas,
penontonnya membludak. Penggemarnya mulai dari Purwokerto, Cilacap,
Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Brebes, Tegal, sampai
Pekalongan. Ia juga sering manggung di Yogyakarta, Bandung, dan
Jakarta.
Di Jakarta atau Bandung, panitia menjual tiket Rp.5 – 200 ribu dan
penonton tak keberatan. Penggemar Gino mulai dari pekerja kasar,
pedagang, pengusaha, anggota TNI/Polri, karyawan sampai pejabat
tinggi. Setiap kali manggung, tempat pertunjukan seperti Istora
Senayan yang cukup luas, tak ada kursi yang kosong.

Tidak Keluar Pakem

Sering orang menyebut Gino sebagai "dalang rame". Ia memang sering
membawakan lakon-lakon yang ramai dan disukai anak muda, seperti
Antasena Gugat, Petruk Dadi Ratu, Petruk Nagih Janji, Gareng Urile
Ilang, Laire Wisanggeni, dan lain-lain. Ia sering berimprovisasi dan
membuat jalan cerita dengan variasi yang berbeda, sehingga sering
dituding merusak atau keluar dari pakem. Menghadapi para pengkritik,
Gino punya jawaban. "Pakem itu kan buatan manusia. Zaman sudah
berubah. Ini memaksa saya untuk menyuguhkan apa yang dikehendaki
penonton", katanya.


Sekarang ini yang digemari adalah lakon-lakon dengan tokoh muda
wayang sebagai pahlawannya, seperti Antasena dan Wisanggeni muncul,
penonton senang. Kedua tokoh muda wayang itu digemari mungkin karena
berani, jujur, cablaka (terus terang, tidak tedeng aling-aling),
demokratis dan sakti. Keduanya juga selalu berbahasa ngoko (bahasa
sehari-hari) terhadap siapa saja- ciri khas generasi muda yang
ingin "memberontak" dan anti kemapanan.

Menurut Gino, "Saya tetap berpegang pada pakem". Improvisasi yang
dilakukan, semata agar penonton merasa puas. " Boleh menuduh saya
menyimpang dari pakem, kalau misalnya saya mainkan Gatutkaca sebagai
anaknya Arjuna, Wisanggeni anaknya Kresna atau Adipati Karno matinya
oleh Bima." Katanya.

Gino tampaknya sadar bahwa wayang kulit adalah tontonan . Karena
itu, penonton harus dipikat dan dipuaskan. Itu dilakukan dengan tata
lampu yang menarik, cara membuka cerita dan sabetan. Tata lampu yang
dipadukan dengan hentakan suara gendang atau gending, membuat
pagelaran terasa gayeng, lebih hidup dan menarik. Melesatnya anak
panah yang dibarengi suara berdesing dan kilatan lampu, membuat
penonton seolah tidak berkedip dan betah sampai pagi.

Ki Gino berkeyakinan, wayang tetap akan digandrungi penonton, selama
dalang mampu membuktikan bahwa wayang ternyata menarik dan bisa
memuaskan penonton. Jadi, katanya, "Tergantung bagaimana dalang
membawakannya." Kelebihan Gino yang lain adalah karena ia mampu
memanag tim yang terdiri dari nayaga dan pesinden.
Seabagai trend setter, Gino akhirnya diakui. Banyak dalang muda
Banyumas yang mengikuti jejaknya. Ketika tampil di gedung Sasana
Hinggil Kraton Yogyakarta, ia diminta tampil dengan gayanya yang
khas. Padahal, ia juga menguasai gagrag Yogyakarta atau Surakarta.

Tapa Kungkum

Gino meniti karir dari bawah. Sebelum menjadi dalang, ia pernah
mengalami masa pahit, pedih, dan sengsara. Beranjak dewasa, ia
menjadi pemain kethoprak dan wayang orang.
Setelah itu menganggur dan tak punya mata pencaharian. Kebolehannya
memainkan siter ia manfaatkan. Dengan siternya itu ia ngamen, njajah
desa milang kori". Ia bertualang dari kota ke kota, sepanjang
Cirebon hingga Gunung Kawi. "Saat nyiter itu saya mirip
gelandangan," kenangnya. Ia sering tidur di makam-makam keramat, di
setiap kota yang dilaluinya dengan berjalan kaki.

Setelah menikah, ia mencoba mengubah nasib dengan menjadi penderes
kelapa. Rupanya, menjadi pembuat gula merah tidaklah semanis
gulanya. Gino sering laku batin.
Ia, sesuai petunjuk gurunya, menjalani tapa kungkum (berendam).
Sebelum pentas perdana, setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon
ia tapa mengambang di Sungai Trenggulun yang arusnya tenang tapi
rawan dan bermuara di Sungai Serayu. Pada hari-hari yang ditentukan,
ia berangkat ke hulu sungai di perbukitan Cilongok. Dengan bantuan
batang pohon pisang dan tongkat kayu, ia menghanyutkan diri
sepanjang kurang lebih 10 Km.


Sekitar 7 bulan kemudian, pada 1959, ia mulai pentas wayang di
rumahnya sendiri. Sejak itu ia dikenal sebagai dalang. Ia terus
memperdalam seni pewayangan,melalui buku maupun belajar kepada
dalang-dalang senior di berbagai daerah. Semakin hari,namanya
semakin luas dikenal.

Mendalang di Segara Anakan

Tahun 1972, Gino punya pengalaman unik. Ketika itu ia diundang ke
kawasan Segara Anakan Cilacap. Dari pelabuhan Sleko, ia beserta
rombongan naik perahu yang disediakan pihak pengundang. Di belakang
perahu, ada perahu lain yang menuju ke arah yang sama. Tiba-tiba
perahu yang ditumpangi Gino dan rombongan tersedot pusaran air dan
tenggelam. Berita musibah itu cepat tersebar. Warga Desa Notog
geger, keluarga sedih dan tetangga ikut berdukacita. RRI Purwokerto
kabarnya sempat menyiarkan hilangnya perahu rombongan dalang Gino.
Kesedihan berganti menjadi keheranan , ketika Ki Gino dan rombongan
keesokan harinya kembali ke Desa Notog dalam keadaan segar bugar.
Gino sendiri heran, ketika mendalang tidak ada yang menonton,
padahal biasanya penontonnya membludak. Yang aneh, ia sendiri tidak
tahu berada di mana malam itu. Yang ia ingat, " Waktu mendalang
turun hujan lebat," katanya.

Setelah istri pertama meninggal, ia menikah dengan Suwarti tahun
1987. Dengan istri pertama dikaruniai 3 orang putera. Ketika Yayasan
Senawangi Jakarta mengadakan pemilihan dalang Favorit, Ki Gino
Siswotjarito menduduki rangking III. Disamping manggung, dalang
kondang ini telah merekam 40-an cerita wayang. Setiap cerita rata-
rata 8 kaset.

Ki Gino membuktikan bahwa kehidupan dalang masih menjanjikan.
Buktinya, ia mampu membiayai sekolah anak-anaknya sampai ke
perguruan tinggi dan menjadi sarjana. Rumah besar, perabotannya
serba lux dan di garasi ada kendaraan roda empat lebih dari satu.


*) Diambil dari Buku Wong Banyumasan, Kiprah dan Karyanya, karangan
M. Koderi. Penerbit Purbadi Publisher, April 2006, dengan beberapa
perubahan.

Sabtu, 07 Mei 2011

Parikan Banyumasan


Saka listrik digeang geong
Aja brisik mbok ana uwong

Wong njangan kluwih, nganggo santen klapa
Tumplek nang sarung panase krasa
Sanajan olih randa = ora apa-apa
Sing penting urung kadaluwarsa

Jangan terong akeh lugute
Timbang nyolong suka njaluke

Jangan kluwik akeh trasine
Wong wis watek angel tambane

Jangan slada akeh mricane
Prawan randa ya pada bae

Jangan tumplek karo segane
Cempulek eh ayu ninine

Sing aran tembung parikan, merguyokna pisan
Kena nggo bumbu dopokan
Uga kena nggo hiburan
Ning aja nggo penjorangan
Apa maning padhang wulan
Timbang mung rubungan dopokan ora karuan


Adol jere kulak ndean
Percuma suka parikan
Suket teki thukul nang nggili
Dipereki koq clala clili
Suket garing nggo empan sapi
Tiwas nyanding ora nyicipi
Suket jeang dinggi nambani
Nek disawang tambah ngangeni
Suket gajah diopeni
Mbok mubah nyong gelem nampani

Kamis, 05 Mei 2011

BATURADEN


Baturaden kuwe obyek plesiran / wisata nang sisi kidul Gunung Slamet ± 14 Km arah lor kota Purwokerto. Obyek wisata kiye termasuk lengkap fasilitase, termasuk ana akomodasi hotel berbintang.

Baturraden asale sekang 2 tembung yakuwe: Batur (Pembantu), kanca, utawa bukit, tembung sijine yakuwe Raden sing artine Bangsawan. Crita Baturraden sing berkembang nang masyarakat Banyumasan ana 2 versi. Siji versi Kadipaten Kutaliman lan sijine maning versi Syekh Maulana Maghribi.


== Sejarah Versi: Kadipaten Kutaliman == Gemiyen jere ana Kadipaten sing lokasine kira-kira 10 Km ming arah sisih kulon Baturraden. Adipatine nduwe putri-putri lan nduwe gamel (batur sing tugase njaga jaran). Salah siji putri Adipati kuwe seneng (cinta) karo gamel. Merga sekang status sosial sing sejen banget, kisah cintane kuwe liwat pintu mburi ben ora konangan.
Saking senenge karo gamel kuwe akhire putri Adipati meteng, terus mbuh kepriwe critane akhire kisah asmara putri Adipati karo gamel dadi konangan uga. Adipati kesuh banget lantes ngusir gamel karo putrine kuwe sekang Kadipaten. Nang perjalanan, putri Adipati akhire babaran nang pinggir kali, bayine kakung. Kali kuwe diweih jeneng Kaliputra. Kali kuwe anane sekitar 3 Km arah lor Kadipaten Kutaliman. Pasangan putri Adipati karo gamel kuwe akhire nemu panggonan sing lingkungane keton apik lan asri, terus manggon nang kana.
Angger miturut versi Kutaliman, jeneng Baturaden kudune ditulis nganggo 2 "R" merga versi kuwe asale sekang kata Batur lan Raden dadi Baturraden
Sejarah Versi: Syekh Maulana Maghribi
Syekh Maulana Maghribi kuwe slah siji ulama kesohor. Dheweke jane pangeran sing asale sekang Turki. Critane dimolai bar Subuh, Syekh Maulana Maghribi ndeleng sinar aneh, sinar muncul nang arah Tenggara. Dheweke pengin ngerti sekang endi sinar misterius kuwe muncul lan ana petunjuk apa. Dikancani karo sohibe Haji Datuk lan batur-bature, Syekh Maulana Maghribi karo rombongan berlayar ming arah muncule sinar. Rombongan terus berlayar nganti tekan pantai Gresik, sinar misterius kuwe keton nang arah kulon, rombongan terus berlayar ming arah kulon lan akhire tekan nang pantai Pemalang, Jawa Tangah. Tekan nang Pemalang, Syekh Maulana Maghribi ngongkon para pembantune bali, dheweke mung dikancani Haji Datuk ngelanjutaken perjalanan ming arah kidul sambi nyebaraken agama Islam. Akhire Syekh Maulana Maghribi netep nang Banjar Cahayana. Nang kene dheweke keserang penyakit gatel-gatel, penyakite kuwe mandan serius lan angel diobati.
Akhire pas mbengi bar shalat Tahajud, Syekh Maulana Maghribi olih /Ilham nek dheweke kudu lunga ming arah gunung Gora. Tekan ming lereng gunung Gora, Syekh Maulana Maghribi ngongkon Haji Datuk ninggalaken dheweke. Syekh Maulana Maghribi dhewekan ngenteni petunjuk nang enggon sing ana kepulan asap. Jebulane nang kana ana sumber air panas lan Syekh Maulana Maghribi nyeluk panggonan kuwe Pancuran Pitu sing artine sumber banyu panas sing nduwe 7 mata air. Saben penyakit gatele kumat Syekh Maulana Maghribi adus nang kono, ngantek akhire penyakit gatele mari.
Wong-wong neng kana nyeluk Syekh Maulana Maghribi dadi Mbah Atas Angin sebab dheweke teka sekang negeri sing adoh banget. Syekh Maulana Maghribi uga kadang disebut Haji Datuk Rusuhudi (artine Batur sing Adil utawa Pembantu sing Setia). Syekh Maulana Maghribi akhire ngobah jeneng gunung Gora dadi Gunung Slamet, slamet artine aman, merga Syekh Maulana Maghribi ngerasa aman manggon nang kana.
Daerah sing dienggoni Syekh Maulana Maghribi nganti mari sekang penyakite dianggep keramat lan akeh dikunjungi wong sekitar kana khususe dina Selasa Kliwon lan Jemuah Kliwon.
Baturaden miturut versi kiye ditulis nganggo 1 "R".
Sarana Plesiran Liyane Sekitar Baturaden
• Wanawisata: Lokasine 2 Km sekang Lokawisata Baturraden. Sekang kene bisa ndeleng panorama alam sing apik lan asri, lengkap karo arena perkemahan sing nampung ± 1000 tenda. Nang kene juga ana pusat pembibitan tanaman produksi antarane: Cemara, Pinus, lan liya-liyane.


• Curug Gede: Lokasine nang Desa Wisata Ketenger, kira-kira 2 km sekang Lokawisata Baturaden. Nang kene bisa ndeleng lan menikmati air terjun lan keindahan panorama alam, juga ana lempengan batu.
• Telaga Sunyi: Lokasine ± 3 km arah kidul Baturaden. Nang obyek wisata kiye bisa ndeleng keindahan panorama alam lan kesunyian karo keindahan bebatuan.
• Pancuran Pitu: Lokasine ± 7 km sekang Lokawisata Baturraden. Sing bisa dinikmati ialah keindahan alam lan alas, pancuran 7 lan gua Sarabadak (pertemuan sumber air panas lan adem).

Gatotkaca, the Flying Knight of Pringgadani, son of Bimasena


Gatotkaca sangat hebat tapi sayang dia harus mati di usia muda. Kematian Gatotkaca sudah diatur oleh Prabu Kresna. Prabu Kresna menginginkan kemenangan sempurna bagi pihak Pandawa dalam perang Bharatayudha. Beliau takut dengan panah andalan Karna yang bernama Kunta. Kunta adalah senjata pemberian Batara Indra. Panah tersebut merupakan senjata yang maha ampuh, tidak ada senjata yang lebih hebat dari Kunta. Tapi sayang Panah Kunta hanya bisa digunakan sekali.
Rencana Karna untuk menggunakan Panah Kunta untuk menghadapi Arjuna. Tetapi melihat Gatotkaca begitu perkasa menghancurkan pasukan Kurawa. Pihak Kurawa putus asa dan meminta Karna untuk membunuh Gatotkaca tetapi Gatotkaca tidak bisa dihadapi karena Gatotkaca bisa tebang dan bersembunyi di balik awan dan kebal dengan semua senjata pusaka yang ada. Akhirnya Karna tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan Panah Kunta. Karena beliau sadar kalau Gatotkaca tidak dibinasakan maka seluruh Pasukan Kurawa lah yang akan binasa. Dan matilah Gatokaca. Jatuh dari atas langit meremuk bumi. Sebelum menyentuh bumi, Gatotkaca membesarkan tubuhnya sebesar gunung dan membunuh ribuan pasukan Kurawa.
Skenario Gatotkaca menghadapi Pasukan Kurawa sudah diatur oleh Prabu Krisna. Prabu Krisna percaya kalau Karna pasti akan menggunakan Panah Kunta-nya.
Sewaktu lahir, Gatotkaca berwujud raksasa bernama Putut Tutuka. Namun ketika di Kahyangan terjadi masalah karena diserbu pasukan raksasa yang dipimpin Sakipu, para dewa meminjam Tutuka kepada Bima. Terus Gatotkaca menang dan mendapat tiga hadiah dari pada dewa.
Hadiah pertama adalah brevet penerbang bernama “kotang Antakusuma” yang membuat Gatotkaca dapat terbang dengan cepat tanpa menimbulkan ledakan supersonik. Hadiah kedua adalah topi bernama Caping Basunanda, yang mempunyai kesaktian apabila panas tidak merasa panas dan hujan tidak menjadi basah. Hadiah ketiga, berupa sepatu “Pada Kacarma” yang mempunyai kesaktian tidak akan kualat walaupun melintasi daerah-daerah angker.
Kutipan dari buku “Wayang dan Karakter Manusia” karangan Ir. Sri Mulyono
Cerita lain yang lebih lengkap:
Raden Gatotkatja putera Raden Wrekiodara jang kedua, ibunja scorang puteri raksasa bernama Dewi Arimbi di Pringgadani.
Waktu dilahirkan Gatotkatja berupa raksasa ; karena sangat saktinja, tidak ada sendjata jang dapat nemotong tali pusatnja. Kemudian tali pusat itu dapat djuga dipotong tetapi sarung sendjata Karna jang bernama Kunta, tetapi sarung sendjata itu masuk kedalam perut Gatotkatja, dan menambah lagi kesaktiannja.
Dengan kehendak Dewa-Dewa, baji Gatotkatja itu dimasak sebagai bubur dan diisi dengan segala kesaktian ; karena itu Raden Gatotkatja berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala, dapat terbang diawan dan duduk diatas awan jang melintang. Ketjepatan Gatotkatja pada waktu terbang diawan sebagai kilat, liar sebagai halilintar.
Kesakrtiannja dalam perang, dapat mentjabut leher musuhnja dengan digunakan pada saat jang penting.
Gatotkatja diangkat djadi radja di Pringgadani, dan ia disebut kesateria di Pringgadani, karena pemerintahan negara dikuasai oleh keturunan dari pihak perempuan.
Dalam perang Beratajuda Gatotkatja tewas oleh sendjata Kunta Karna jang ditudjukan kepada Gatotkatja, waktu Gatotkatja bersembunji dalam awan. Gatotkatja djatuh dari angkasa mengenai kereta kendaraan Karna hingga hantjur lebur.
Gatotkatja beristerikan saudara misan, bernama Dewi Pregiwa, puteri Raden Ardjuna.
Dalam riwajat, Gatotkatja mati masih sangat muda, hingga sangat disesali oleh sekalian keluarganja.
Gatotkatja bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan berdjanggut. Berdjamang tiga susun, bersunting waderan, sanggul kadal-menek, bergaruda membelakang, berpraba, berkalung ulur2, bergelang, berpontoh dan berkerontjong, Berkain keradjaan lengkap.
Menurut kata dalang waktu Raden Gatotkatja akan mengawan, diutjapkan seperti berikut:
Tersebutlah, pakaian Raden Gatotkatja jang djuga disebut kesateria di Pringgadani: Berdjamang mas ber-sinar2 tiga susun, bersunting mas berbentuk bunga kenanga dikarangkan berupa surengpati. (Surengpati berarti berani pada adjalnja. Sunting serupa ini djuga dipakai untuk seorang murid waktu menerima ilmu dari gurunja bagi ilmu kematian, untuk lambang bahwa orang jang menerima ilmu itu takkan takut pada kematiannja). Bergelung (sanggul) bentuk supit urang (sepit udang) tersangga oleh praba, berkantjing sanggul mas tua bentuk garuda membelakang dan bertali ulur-ulur bentuk naga terukir, berpontoh nagaradja, bergelang kana (gelang empat segi). Berkain (kampuh) sutera djingga (merah tua), dibatik dengan lukisan seisi hutan, berikat-pinggang tjindai hidjau, bertjelana tjindai biru, berkerontjong suasa bentuk nagaradja, untjal (kain sebai) diberi emas anting.
Ditjeritakan, Raden Gatotkatja waktu akan berdjalan ia berterumpah Padakatjarma, jang berkuasa dapat mengawan tak dengan sajap. Bersongkok Basunanda, walaupun pada waktu panas terik takkan kena panas, bila hudjan tak kena air hudjan. Ditjeritakan Raden Gatotkatja menjingsingkan kain bertaliwanda, ialah kain itu dibelitkan pada badan bagian belakang Raden Gatotkatja segera menepuk bahu dan menolakkanlah kakinja kebumi, terasa bumi itu mengeram dibawah kakinja. Mengawanlah ia keangkasa.
Wajang itu diudjudkan sebagai terbang, jalah didjalankan, dari kanan kekiri, dibagian kelir atas sementara kali, lalu ditjatjakkan, ibarat berhenti diatas awan, dan dalang bertjerita pula:
Tersebutlah Raden Gatotkatja telah mengawan, setiba diangkasa terasa sebagai mengindjak daratan, menjelam diawan biru, mengisah awan dihadapannja dan tertutuplah oleh awan dibelakangnja, samar-samar tertampak ia dipandangan orang. Sinar pakaian Gatotkatja jang kena sinar matahari sebagai kilat memburunja. Maka berhentilah kesatria Pringgadani diawan melintang, menghadap pada awan jang lain dengan melihat kekanan dan kekiri. Setelah hening pemandangan Gatotkatja, turunlah ia dari angkasa menudju kebumi.
Adipati Karna waktu perang Beratajuda berperang tanding melawan Gatotkatja. Karna melepaskan sendjata kunta Widjajadanu, kenalah Gatotkatja dengan sendjata itu diarah pusatnja. Setelah Gatotkaja kena panah itu djatuhlah Gatotkatja dari angkasa mendjatuhi kereta kendaraan Karna, hingga hantjur lebur kereta itu.
Tersebut dalam tjerita, Raden Gatotkatja seorang kesateria jang tak pernah bersolek, hanja berpakaian bersahadja, djauh dari pada wanita.
Tetapi setelah Gatotkatja melihat puteri Raden Ardjuna, Dewi Pregiwa, waktu diiring oleh Raden Angkawidjaja, Raden Gatotkatja djatuh berahi, ketarik hati Gatotkatja lantaran melihat puteri itu bertjambang dan berhias serba bersahadja.
Berubah tingkah Raden Gatotkatja ini, diketahui oleh ibunja (Dewi Arimbi) dengan sukatjita dan menuruti segala permintaan Raden Gatotkatja. Kemudian puteri ini diperisteri Raden Gatotkatja.
Gatotkatja berwanda 1 Guntur, 2 Kilat 3 Tatit. 4 Tatit sepuh, 5 Mega dan 6 Mendung.


Sumber:
Sedjarah Wajang Purwa
Pak Hardjowirogo
P.N. Balai Pustaka