KI SOEGINO SISWOTJARITO ( 1937 - ) *)
Dalang Gino lahir hari Selasa Wage,9 Jumadilakir 1356 H bertepatan
dengan tanggal 17 Agustus 1937 di Banyumas. Ia bukan keturunan
dalang. Ayahnya, Siswomiharjo, seorang kepala sekolah. Ibunya
bernama Dasirah. Kehidupan orang tuanya yang juga pernah menjadi
kepala desa, boleh dibilang cukup. Namun Gino tidak tertarik ketika
ditawari untuk menggantikan kedudukan sang ayah sebagai kepala desa.
Ia memilih menjadi dalang. Bagi masyarakat Banyumas, nama dalang
Gino sudah tidak asing lagi. Ia begitu populer. Setiap pentas,
penontonnya membludak. Penggemarnya mulai dari Purwokerto, Cilacap,
Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Brebes, Tegal, sampai
Pekalongan. Ia juga sering manggung di Yogyakarta, Bandung, dan
Jakarta.
Di Jakarta atau Bandung, panitia menjual tiket Rp.5 – 200 ribu dan
penonton tak keberatan. Penggemar Gino mulai dari pekerja kasar,
pedagang, pengusaha, anggota TNI/Polri, karyawan sampai pejabat
tinggi. Setiap kali manggung, tempat pertunjukan seperti Istora
Senayan yang cukup luas, tak ada kursi yang kosong.
Tidak Keluar Pakem
Sering orang menyebut Gino sebagai "dalang rame". Ia memang sering
membawakan lakon-lakon yang ramai dan disukai anak muda, seperti
Antasena Gugat, Petruk Dadi Ratu, Petruk Nagih Janji, Gareng Urile
Ilang, Laire Wisanggeni, dan lain-lain. Ia sering berimprovisasi dan
membuat jalan cerita dengan variasi yang berbeda, sehingga sering
dituding merusak atau keluar dari pakem. Menghadapi para pengkritik,
Gino punya jawaban. "Pakem itu kan buatan manusia. Zaman sudah
berubah. Ini memaksa saya untuk menyuguhkan apa yang dikehendaki
penonton", katanya.
Sekarang ini yang digemari adalah lakon-lakon dengan tokoh muda
wayang sebagai pahlawannya, seperti Antasena dan Wisanggeni muncul,
penonton senang. Kedua tokoh muda wayang itu digemari mungkin karena
berani, jujur, cablaka (terus terang, tidak tedeng aling-aling),
demokratis dan sakti. Keduanya juga selalu berbahasa ngoko (bahasa
sehari-hari) terhadap siapa saja- ciri khas generasi muda yang
ingin "memberontak" dan anti kemapanan.
Menurut Gino, "Saya tetap berpegang pada pakem". Improvisasi yang
dilakukan, semata agar penonton merasa puas. " Boleh menuduh saya
menyimpang dari pakem, kalau misalnya saya mainkan Gatutkaca sebagai
anaknya Arjuna, Wisanggeni anaknya Kresna atau Adipati Karno matinya
oleh Bima." Katanya.
Gino tampaknya sadar bahwa wayang kulit adalah tontonan . Karena
itu, penonton harus dipikat dan dipuaskan. Itu dilakukan dengan tata
lampu yang menarik, cara membuka cerita dan sabetan. Tata lampu yang
dipadukan dengan hentakan suara gendang atau gending, membuat
pagelaran terasa gayeng, lebih hidup dan menarik. Melesatnya anak
panah yang dibarengi suara berdesing dan kilatan lampu, membuat
penonton seolah tidak berkedip dan betah sampai pagi.
Ki Gino berkeyakinan, wayang tetap akan digandrungi penonton, selama
dalang mampu membuktikan bahwa wayang ternyata menarik dan bisa
memuaskan penonton. Jadi, katanya, "Tergantung bagaimana dalang
membawakannya." Kelebihan Gino yang lain adalah karena ia mampu
memanag tim yang terdiri dari nayaga dan pesinden.
Seabagai trend setter, Gino akhirnya diakui. Banyak dalang muda
Banyumas yang mengikuti jejaknya. Ketika tampil di gedung Sasana
Hinggil Kraton Yogyakarta, ia diminta tampil dengan gayanya yang
khas. Padahal, ia juga menguasai gagrag Yogyakarta atau Surakarta.
Tapa Kungkum
Gino meniti karir dari bawah. Sebelum menjadi dalang, ia pernah
mengalami masa pahit, pedih, dan sengsara. Beranjak dewasa, ia
menjadi pemain kethoprak dan wayang orang.
Setelah itu menganggur dan tak punya mata pencaharian. Kebolehannya
memainkan siter ia manfaatkan. Dengan siternya itu ia ngamen, njajah
desa milang kori". Ia bertualang dari kota ke kota, sepanjang
Cirebon hingga Gunung Kawi. "Saat nyiter itu saya mirip
gelandangan," kenangnya. Ia sering tidur di makam-makam keramat, di
setiap kota yang dilaluinya dengan berjalan kaki.
Setelah menikah, ia mencoba mengubah nasib dengan menjadi penderes
kelapa. Rupanya, menjadi pembuat gula merah tidaklah semanis
gulanya. Gino sering laku batin.
Ia, sesuai petunjuk gurunya, menjalani tapa kungkum (berendam).
Sebelum pentas perdana, setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon
ia tapa mengambang di Sungai Trenggulun yang arusnya tenang tapi
rawan dan bermuara di Sungai Serayu. Pada hari-hari yang ditentukan,
ia berangkat ke hulu sungai di perbukitan Cilongok. Dengan bantuan
batang pohon pisang dan tongkat kayu, ia menghanyutkan diri
sepanjang kurang lebih 10 Km.
Sekitar 7 bulan kemudian, pada 1959, ia mulai pentas wayang di
rumahnya sendiri. Sejak itu ia dikenal sebagai dalang. Ia terus
memperdalam seni pewayangan,melalui buku maupun belajar kepada
dalang-dalang senior di berbagai daerah. Semakin hari,namanya
semakin luas dikenal.
Mendalang di Segara Anakan
Tahun 1972, Gino punya pengalaman unik. Ketika itu ia diundang ke
kawasan Segara Anakan Cilacap. Dari pelabuhan Sleko, ia beserta
rombongan naik perahu yang disediakan pihak pengundang. Di belakang
perahu, ada perahu lain yang menuju ke arah yang sama. Tiba-tiba
perahu yang ditumpangi Gino dan rombongan tersedot pusaran air dan
tenggelam. Berita musibah itu cepat tersebar. Warga Desa Notog
geger, keluarga sedih dan tetangga ikut berdukacita. RRI Purwokerto
kabarnya sempat menyiarkan hilangnya perahu rombongan dalang Gino.
Kesedihan berganti menjadi keheranan , ketika Ki Gino dan rombongan
keesokan harinya kembali ke Desa Notog dalam keadaan segar bugar.
Gino sendiri heran, ketika mendalang tidak ada yang menonton,
padahal biasanya penontonnya membludak. Yang aneh, ia sendiri tidak
tahu berada di mana malam itu. Yang ia ingat, " Waktu mendalang
turun hujan lebat," katanya.
Setelah istri pertama meninggal, ia menikah dengan Suwarti tahun
1987. Dengan istri pertama dikaruniai 3 orang putera. Ketika Yayasan
Senawangi Jakarta mengadakan pemilihan dalang Favorit, Ki Gino
Siswotjarito menduduki rangking III. Disamping manggung, dalang
kondang ini telah merekam 40-an cerita wayang. Setiap cerita rata-
rata 8 kaset.
Ki Gino membuktikan bahwa kehidupan dalang masih menjanjikan.
Buktinya, ia mampu membiayai sekolah anak-anaknya sampai ke
perguruan tinggi dan menjadi sarjana. Rumah besar, perabotannya
serba lux dan di garasi ada kendaraan roda empat lebih dari satu.
*) Diambil dari Buku Wong Banyumasan, Kiprah dan Karyanya, karangan
M. Koderi. Penerbit Purbadi Publisher, April 2006, dengan beberapa
perubahan.





Cari Dipan Rotan Sintetis
BalasHapusCari Dipan Rotan Sintetis
Cari Dipan Rotan Sintetis
Cari Dipan Rotan Sintetis
Cari Furniture Anyaman Rattan Synthetic
Cari Furniture Anyaman Rattan Synthetic
Cari Furniture Anyaman Rattan Synthetic
Cari Furniture Anyaman Rattan Synthetic
Cari Furniture Anyaman Rotan
Cari Furniture Anyaman Rotan
Cari Furniture Anyaman Rotan
Cari Furniture Anyaman Rotan
Cari Furniture Anyaman Rotan Alami
Cari Furniture Anyaman Rotan Alami
Cari Furniture Anyaman Rotan Alami
Cari Furniture Anyaman Rotan Alami
Cari Furniture Anyaman Rotan Natural
Cari Furniture Anyaman Rotan Natural
Cari Furniture Anyaman Rotan Natural
Cari Furniture Anyaman Rotan Natural
Cari Furniture Anyaman Rotan Sintetis
Cari Furniture Anyaman Rotan Sintetis
Cari Furniture Anyaman Rotan Sintetis
Cari Furniture Anyaman Rotan Sintetis
Cari Furniture Rattan Synthetic
Cari Furniture Rattan Synthetic
Cari Furniture Rattan Synthetic
Cari Furniture Rattan Synthetic
Cari Furniture Rotan
Cari Furniture Rotan
Cari Furniture Rotan
Cari Furniture Rotan